Media InfoXpos.com – TANGERANG– Panitia kegiatan peragaan manasik haji Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Kabupaten Tangerang memberikan klarifikasi terkait kemacetan yang terjadi saat kegiatan berlangsung di Asrama Haji El-Hajj, Cipondoh, beberapa waktu lalu.
Salah satu Koordinator Kegiatan, Muzayanah, menjelaskan bahwa kemacetan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi panitia. Ia membandingkan pelaksanaan di Masjid Al-Adzhom sebelumnya yang diikuti 11.000 peserta dalam satu hari namun tetap kondusif tanpa kemacetan berarti.
“Kalau terkait dengan manasik haji, kita belajar dari Al-Adzhom. Waktu di Al-Adzhom satu hari itu 11.000 peserta kalau tidak salah, untuk parkir juga tidak ada kemacetan, macet biasa, tidak sampai sepadat yang kemarin pengalaman di El-Hajj,” ujar Muzayanah, saat dikonfirmasi melalui aplikasi pesan singkat Whatsapp, pada Kamis (22/10/2026).
Menurutnya, kemacetan tidak bisa menyalahkan pihak pengelola El-Hajj. Pihak El-Hajj sebenarnya telah meminta kegiatan dilaksanakan selama tiga hari, yakni Sabtu, Minggu, dan Senin. Namun panitia bersama ketua-ketua kecamatan terlanjur memesan bus untuk hari Minggu dan Senin.
“Tadinya kita mau dibagi dua, Minggu 4.000, Senin 4.000. Ternyata tidak siap, kepala sekolahnya minta tetap di hari Minggu 6.000, hari Senin 2.000,” jelasnya.
Muzayanah mengakui adanya kendala teknis terkait pengaturan lalu lintas dan lokasi penurunan peserta. Saat di Al-Adzhom, bus biasanya melakukan drop-off di samping masjid, depan Kantor MUI, baru kemudian berputar mencari parkir di kawasan Benteng dan Lapas.
“Kalau perkiraan kami, biasanya di-drop dulu di samping masjid, tidak diturunkan di jauh. Walaupun parkirnya jauh, anak-anak di-drop di samping masjid baru busnya putar balik, jadi tidak terlalu jauh,” katanya.
Sementara di El-Hajj, anak-anak diturunkan di depan gerbang yang jalannya relatif sempit. Ditambah kurangnya komunikasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) membuat penumpukan kendaraan tak terhindarkan.
“Memang kami pihak panitia kurang komunikasi dengan Dishub. Jadi tidak ada yang bisa disalahkan, karena komunikasi memang sangat diperlukan untuk kegiatan. Itu bisa buat pembelajaran kami agar tidak terulang lagi,” tuturnya.
Ia menambahkan, meski di luar sempat terjadi kemacetan, kondisi di dalam aula tetap kondusif karena ruangan ber-AC sehingga anak-anak tetap nyaman mengikuti kegiatan hingga selesai.
Terkait jumlah peserta, Muzayanah meluruskan bahwa kegiatan tersebut diikuti oleh 4.000 anak PAUD. Namun karena karakteristik peserta PAUD yang harus didampingi orang tua, total kehadiran membengkak.
“4.000 peserta itu anak PAUD-nya. Anak PAUD kan ada ibunya. Pihak el-Hajj tidak tahu kalau manasik itu harus ibunya ikut,” jelasnya.
Ia menyebut, tidak semua orang tua ikut. Sekolah-sekolah besar biasanya hanya mendampingi anak dengan guru. Sehingga total peserta di lapangan sekitar 6.000 orang.
Kegiatan ini sendiri bukan diikuti oleh seluruh PAUD se-Kabupaten Tangerang. Dari total 1.800 lembaga PAUD yang ada di Kabupaten Tangerang, yang tergabung dalam komunitasnya sebanyak 275 lembaga.
“Itu hanya perwakilan saja. Paling per kecamatan ada yang mengirim 100 anak, ada yang cuma 50 anak. Kalau se-Kabupaten semua ikut bisa sampai 50.000 peserta,” ujarnya.
Persiapan kegiatan sendiri telah dilakukan selama satu bulan.
Muzayanah juga meluruskan informasi terkait biaya kegiatan. Menurutnya, biaya yang disetorkan ke pihak El-Hajj hanya Rp30.000 per anak. Biaya tersebut sudah mencakup fasilitas aula ber-AC, muthowif atau pembimbing manasik, kebersihan, hingga pengerahan seluruh pegawai dan staf El-Hajj, termasuk fasilitas kamar untuk panitia.
“Anggaran mandiri, anak-anak patungan sendiri. Nilainya murah, cuma Rp30.000 per anak, sudah dapat semua fasilitas, sudah difasilitasi muthowif, aula, pegawai El-Hajj dikerahkan semua,” tegasnya.
Sementara terkait isu pungutan Rp690.000, ia menegaskan bahwa nominal tersebut bukan berasal dari panitia pusat, melainkan urusan masing-masing lembaga.
“Rp690.000 itu urusannya lembaga masing-masing, kita tidak tahu. Itu mungkin buat makan, buat kuis, buat piala, buat biaya bis, ada yang mampir ke kolam renang. Yang disetor ke El-Hajj ya Rp30.000 itu,” jelasnya.
Peserta kegiatan berasal dari berbagai kecamatan, seperti Mekar Baru, Pasar Kemis, dan Rajeg. Ia menyebut setiap lembaga PAUD memang rutin menggelar manasik setiap tahun di lokasi yang berbeda, seperti Pondok Gede dan Cikole, sesuai keinginan masing-masing.
Untuk perizinan, Muzayanah mengakui biasanya panitia yang mengurus surat-menyurat mulai dari kepolisian hingga izin keramaian. Namun karena El-Hajj merupakan lokasi baru yang pertama kali digunakan, perizinan diurus oleh pihak El-Hajj sendiri.
“Itu yang perlu menjadi pembelajaran untuk tahun mendatang. Perizinan mungkin dari pihak kita, jadi lebih jelas untuk teknisnya supaya tidak terulang lagi,” katanya.
Ia juga membantah keras isu yang menyebut ada peserta yang baru datang kemudian diminta bubar.
“Tidak ada dari panitia yang minta bubar. Semua pelaksanaan sesuai dengan urutannya, datang, daftar ulang, melaksanakan pelatihan, bahkan sempat nonton cerita tentang pelaksanaan manasik haji. Tidak ada yang baru datang diminta bubar,” tegasnya.
Di akhir keterangannya, Muzayanah menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Cipondoh, khususnya pengguna jalan di depan Asrama Haji El-Hajj yang terganggu akibat kemacetan.
“Pihak Al-Hajj sendiri sudah minta maaf atas terganggunya kelancaran lalu lintas di depan pintu masuk. Kami laksanakan hari Minggu karena perkiraan jam tidak jam kerja akan lebih lancar. Tidak tahu kalau ternyata hari Minggu pun kena macet,” ujarnya.
Untuk evaluasi, pada hari Senin panitia telah menginstruksikan agar semua bus menurunkan peserta di dalam area masjid El-Hajj, baru kemudian mencari tempat parkir.
“Di hari Senin sudah disampaikan, semacet apapun anak diturunkan di masjid Al-Hajj, nanti bisnya baru cari tempat parkiran,” pungkas Muzayanah.
Sumber : NrfDLh
