Media infoxpos.com – Lebak – Minggu, (19/04/2026). Kisah pilu menyelimuti kehidupan Saminah (51), warga Kampung Cikulur, Desa Muncangkopong, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak. Selama kurang lebih 15 tahun terakhir, ia terpaksa bertahan hidup di sebuah gubuk reyot berukuran sekitar 2×2 meter persegi, setelah rumah lamanya ambruk akibat kondisi bangunan yang rapuh, Minggu (19/04/2026).
Gubuk panggung sederhana yang ia tempati jauh dari kata layak huni. Beralaskan bambu dengan kondisi memprihatinkan, tempat itu kini menjadi satu-satunya pelindung bagi Saminah dan suaminya, Kapi (60), yang telah lama menderita stroke dan tidak mampu beraktivitas normal.
Potret kondisi tersebut tergambar jelas di dalam gubuknya. Saminah terlihat setia merawat sang suami yang terbaring lemah di atas lantai bambu. Dengan penuh kesabaran, ia mengusap dan merapikan tubuh suaminya yang tak lagi mampu bergerak normal, di tengah ruang sempit tanpa fasilitas memadai.
Ironisnya, rumah kecil tersebut juga difungsikan sebagai kandang kambing milik orang lain yang ia rawat. Kambing ditempatkan di kolong rumah, sementara Saminah dan suaminya tinggal di bagian atasnya.
“Iya, di kolongnya kambing,” tutur Saminah lirih.
Sejak rumah lamanya roboh, Saminah mengaku tidak memiliki pilihan lain selain menetap di gubuk tersebut. Tahun demi tahun ia jalani dengan penuh keterbatasan, terlebih saat hujan dan angin kerap menerpa tanpa perlindungan yang memadai.
Untuk menyambung hidup, Saminah bekerja serabutan dengan penghasilan sekitar Rp30 ribu per hari.
“Tiga puluh ribu, dicukup-cukupin aja,” ucapnya dengan nada pasrah.
Di tengah kondisi sulit, ia juga harus menanggung beban merawat suaminya yang telah sakit selama kurang lebih 10 tahun. Meski telah diupayakan pengobatan, kondisi Kapi tak kunjung membaik.
“Sudah diobatin, tapi enggak sembuh-sembuh,” katanya.
Saminah juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat menerima bantuan pemerintah, namun kini tidak lagi diterima karena data yang disebut telah terblokir.
“Dulu ada, sekarang sudah enggak. Katanya datanya diblokir,” ungkapnya.
Ia memiliki tiga orang anak. Dua di antaranya masih menempuh pendidikan di pesantren dengan biaya ditanggung pihak pesantren, sementara satu anak lainnya bekerja di Jakarta.
Kondisi memprihatinkan ini turut mengundang keprihatinan warga sekitar. Ibu Yuyu (32), salah satu tetangga, berharap adanya perhatian nyata dari pemerintah.
“Sudah enggak ada perhatian dari pemerintah. Semoga bisa segera ada bantuan lagi,” ujarnya.
Warga setempat hanya mampu membantu semampunya di tengah keterbatasan ekonomi yang juga mereka rasakan.
“Kalau ada mah dikasih, kalau enggak ya sama-sama susah,” tambahnya.
Masyarakat berharap adanya langkah konkret dari pemerintah daerah maupun pihak terkait untuk membantu Saminah, baik melalui program perbaikan rumah tidak layak huni, bantuan sosial, maupun layanan kesehatan yang layak.
Kisah Saminah menjadi potret nyata bahwa masih ada warga di Kabupaten Lebak yang hidup dalam kondisi serba kekurangan dan membutuhkan perhatian serta penanganan serius dari berbagai pihak.
(Dede : R)
