Media infoxpos.com – LEBAK, BANTEN – Selasa, (22/09/2026) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditujukan untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat kembali menjadi sorotan. Kali ini, dugaan ketidaksesuaian menu mencuat dari paket MBG yang diterima penerima manfaat di wilayah Desa Jalupang Mulya, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, khususnya untuk kelompok balita serta ibu hamil dan ibu menyusui.
Informasi tersebut diperoleh awak media InfoXpos.com pada Senin, 21 September 2026, dari salah seorang Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di salah satu Posyandu Desa Jalupang Mulya.
Menurut keterangan KPM, paket yang diterimanya merupakan jatah rapelan untuk tiga hari, yakni Senin, Selasa, dan Rabu. Kondisi serta komposisi makanan dalam wadah yang disebut menggunakan bahan SUS304 tersebut kemudian menjadi perhatian karena terdapat potongan ayam yang masih disertai tulang, juga aroma bau sehingga tidak di makan.
KOMPOSISI MENU JADI SOROTAN
Berdasarkan keterangan KPM, menu yang diterima antara lain:
Nasi putih;
Tahu goreng kecil sebanyak tiga buah;
Timun tiga iris tipis;
Potongan ayam kecil bertulang dengan taburan serundeng;
Sepotong kecil buah melon;
Satu buah pir ukuran sedang;
Satu buah apel ukuran kecil;
Satu bungkus roti dengan kisaran harga Rp2.000.
KPM mempertanyakan apakah komposisi tersebut telah disesuaikan dengan kebutuhan gizi dan karakteristik penerima manfaat yang masih berusia balita.
“Terlihat di porsinya itu kurang nilai gizinya. Ini jatah untuk balita dan bumil/busui, tapi kok begini,” ujar KPM tersebut kepada Awak media.
AYAM BERTULANG UNTUK BALITA, ASPEK KEAMANAN DIPERTANYAKAN
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah penyajian potongan ayam yang masih terdapat tulang atau bagian keras.
Untuk kelompok balita, khususnya anak usia di bawah tiga tahun, bentuk dan tekstur makanan perlu disesuaikan dengan kemampuan mengunyah serta menelan anak. Karena itu, muncul pertanyaan apakah potongan ayam tersebut telah melalui proses pengolahan dan pemorsian yang sesuai dengan kebutuhan kelompok usia penerima.
Persoalannya bukan semata-mata jenis lauk yang diberikan, tetapi bagaimana makanan tersebut diolah, dipotong, disajikan, dan diverifikasi sebelum sampai kepada balita.
Hal ini juga menjadi penting mengingat MBG merupakan program yang menyasar kelompok masyarakat dengan kebutuhan gizi yang berbeda-beda.
KECUKUPAN GIZI DAN PERAN AHLI GIZI DIPERTANYAKAN
Selain aspek keamanan pangan, komposisi menu tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai kecukupan energi, protein, serta keseimbangan zat gizi bagi balita.
Kehadiran ahli gizi dalam penyusunan dan verifikasi menu menjadi salah satu hal yang perlu mendapat penjelasan. Publik berhak mengetahui apakah menu tersebut telah dihitung berdasarkan kebutuhan kelompok sasaran, termasuk ukuran porsi, kandungan protein hewani, sumber karbohidrat, sayuran, buah, serta komponen pendukung lainnya.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah:
Apakah menu tersebut telah diverifikasi oleh ahli gizi SPPG Margawangi sebelum didistribusikan kepada balita?
Kemudian, siapa ahli gizi yang bertanggung jawab melakukan pemeriksaan menu, berapa standar porsi untuk balita, dan bagaimana mekanisme pengawasan kualitas makanan sebelum makanan keluar dari dapur SPPG?
MENU RAPELAN TIGA HARI JUGA PERLU DIJELASKAN
Selain komposisi makanan, informasi mengenai pemberian jatah secara rapelan untuk tiga hari juga perlu mendapat klarifikasi dari pengelola SPPG.
Apabila makanan diberikan sekaligus untuk dikonsumsi pada hari yang berbeda, publik perlu memperoleh penjelasan mengenai mekanisme penyimpanan, batas waktu konsumsi, pengemasan, serta prosedur untuk menjaga keamanan dan mutu makanan, juga untuk nilai anggaran, 3 hari apakah sudah sesuai dengan nilainya?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting karena kelompok penerima merupakan balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, yang membutuhkan perhatian khusus dalam aspek keamanan dan kecukupan pangan.
KEPALA SPPG MARGAWANGI DIMINTAI KLARIFIKASI
Atas temuan dan informasi tersebut, awak media InfoXpos.com kemudian melakukan konfirmasi kepada Kepala SPPG Margawangi berinisial IP pada Senin, 21 September 2026.
Konfirmasi dilakukan untuk meminta penjelasan mengenai standar menu, ukuran porsi, penggunaan ayam bertulang, mekanisme penyimpanan makanan rapelan, serta keterlibatan ahli gizi dalam penyusunan dan pemeriksaan menu.
“Iya untuk sekarang kami tidak ada rapelan pak, yang bilang untuk tiga hari siapa pak? Rapelan sudah tidak boleh jadi setiap hari kami kasihnya,” ungkap Kepala sppg margawangi. pada Senin, 21 September 2026, sekitar pukul: 15:24 WIB.
Hingga berita ini ditayangkan, Tim investigasi masih menunggu penjelasan lengkap dari pihak SPPG Margawangi terkait sejumlah pertanyaan tersebut.
AKAN DIKONFIRMASI KE PIHAK BERWENANG
Tim InfoXpos akan melakukan konfirmasi lanjutan kepada pihak terkait, termasuk Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, unsur pengelola program MBG, serta Badan Gizi Nasional (BGN), guna memperoleh penjelasan mengenai standar menu untuk balita, prosedur keamanan pangan, mekanisme pengawasan SPPG, serta ketentuan mengenai distribusi makanan kepada kelompok sasaran.
Publik juga perlu memperoleh informasi yang jelas apabila memang terdapat standar khusus mengenai bentuk dan tekstur lauk untuk penerima manfaat usia balita.
Persoalan ini bukan sekadar mengenai tampilan satu kotak makanan. Yang menjadi perhatian adalah jaminan keamanan, kecukupan gizi, serta akuntabilitas proses penyediaan makanan bagi kelompok yang membutuhkan perhatian khusus.
Apabila nantinya hasil pemeriksaan resmi menemukan adanya ketidaksesuaian terhadap standar yang berlaku, pihak berwenang diharapkan melakukan evaluasi dan mengambil langkah sesuai ketentuan.
Sebaliknya, apabila seluruh proses telah sesuai standar, penjelasan dan data pendukung dari pihak SPPG juga penting disampaikan kepada publik agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi.
Awak media InfoXpos.com tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi Kepala SPPG Margawangi, ahli gizi, maupun pihak terkait lainnya untuk memberikan penjelasan secara lengkap dan proporsional.
(DR)






