Media infoxpos.com – Lebak – Rabu, (28/1/2026). Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sejatinya menjadi garda terdepan pemerintah dalam menyelamatkan generasi bangsa dari ancaman gizi buruk, justru diduga dicederai oleh praktik pengelolaan yang tidak bertanggung jawab. Di Dapur MBG Desa Leuwidamar, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, menu makanan yang disajikan diduga kuat tidak sebanding dengan nominal anggaran negara yang telah ditetapkan.
Menu yang seharusnya memenuhi standar gizi dan kelayakan, justru dinilai sangat minim, monoton, dan jauh dari kata layak. Kondisi ini memantik kemarahan publik dan memunculkan dugaan bahwa anggaran MBG telah “disunat” di tingkat dapur, sebuah tudingan serius yang tidak boleh dianggap remeh.
Lebih memprihatinkan lagi, saat awak media menjalankan tugas jurnalistik untuk meminta klarifikasi, kepala dapur MBG Leuwidamar memilih bungkam total. Tidak ada penjelasan, tidak ada bantahan, dan tidak ada itikad baik untuk membuka data penggunaan anggaran. Sikap tutup mulut ini justru menjadi alarm keras adanya persoalan yang disembunyikan.
Padahal, setiap rupiah anggaran MBG bersumber dari uang rakyat, yang penggunaannya wajib transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Bungkamnya pihak pengelola dapur merupakan bentuk pengabaian terhadap prinsip keterbukaan publik, sekaligus pelecehan terhadap fungsi kontrol sosial dan pers.
Jika dugaan pengurangan kualitas dan porsi menu ini terbukti, maka perbuatan tersebut berpotensi melanggar Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, serta UU Nomor 31 Tahun 1999 jo. UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, khususnya terkait penyalahgunaan kewenangan yang dapat merugikan keuangan negara.
Publik mendesak Dinas terkait, Inspektorat Daerah, BPK, hingga Aparat Penegak Hukum untuk segera turun tangan, mengaudit, dan membongkar pengelolaan anggaran Dapur MBG Desa Leuwidamar. Jangan biarkan program strategis nasional berubah menjadi ladang bancakan oknum tak bermoral, sementara anak-anak dan masyarakat hanya menerima sisa-sisa.
Hingga berita ini diturunkan, kepala dapur MBG Desa Leuwidamar tetap memilih bungkam, seolah kebal kritik dan alergi terhadap transparansi.
(Dede : R)






